Sabtu, 22 Desember 2012

Cerpen : Mentari Terakhir


MENTARI  TERAKHIR
Karya Susan Aryati

“Resti benci Ayah”
“Plaaaaankkk ………………………
Satu tamparan tepat mendarat di pipi Tari, saat Ia berusaha melindungi Resti. Ini bukan yang pertama kalinya Tari mendapat tamparan dari ayahnya. Tari kembali mengeluarkan air matanya. Dan tak lama cairan merah pun kembali mengalir dari lubang hidungnya. Rasa sakit yang menghampirinya tak akan menjadi penghalang Ia untuk tetap melindungi adiknya. Adik yang telah di titipkan untuk Tari setelah kepergian Ibu tercintanya 4 tahun yang lalu. Dan semenjak itu pula kehidupan Tari dan adiknya berubah 180 derajat.
“Tari… menjauh dari adikmu, akan aku beri pelajaran anak ini”teriak ayahnya pada Tari.
“Tidak… Tari tidak mau ayah menyakiti Resti, cukup Tari yang ayah sakiti… cukup Tari” Ucap Tari yang tedengar pilu menahan tangis dan sakitnya.
“Anak tak tau diri, kamu sama saja dengan adik mu.. HAAAHHHH…” seru ayah dengan jengkelnya dan berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan keras. Seperti belum puas meluapkan semua amarahnya pada Tari dan Resti.
“Resti benci ayah ka.. Resti benci ayah”Resti memeluk Tari dengan erat dan menangis dipelukan Tari, seakan – akan Ia tak ingin melepaskan peluknya pada Tari.
“sudah lah Res, ayah memang seperti itu”
“kaka kenapa sihh, selalu bisa sabar menghadapi ayah. Kaka lihat sendirikan, ayah hanya membela mama 

Dila dan mama Dila, bukan kita anak kandungnya. Aku kangen Ibu Ka….??aku kangen ibu..??” Resti kembali mengeluarkan Airmata.
“Apa yang bisa kita lakukan Res, kita hanya bisa berdoa pada suatu saat nanti mata hati ayah terbuka untu melihat semuanya.” Tari pun ikut tersedu mendengar tangis Resti di peluknya. Tari pun kangen dengan ibu. saat - saat seperti ini memang hanya seorang ibu yang dapat menenangkan hati mereka.
Setelah sepeninggal Ibunya, ayah Tari menikah kembali dengan Mama Dila yang kini menjadi ibu tiri mereka. Memang mama Dila tak seperti ibu tiri yang sering kita dengar dengan kekejamnya. Namun lebih tepatnya untuk mama Dila adalah kata tak perduli, Ia hanya peduli dengan ayah Tari dan anak kandungnya saja. Dan Ayah pun sebaliknya, ayah hanya perduli dengan istri barunya. Seakan – akan cinta ayah Tari ikut pergi bersama ibunya.
***

Beberapa hari setelah kejadian itu, pendarahan di hidung Tari tak mau berhenti. Terkadang Tari pun tak menyadari cairan merah itu mengalir dari hidungnya. Namun Tari tak ambil pusing. “mungkin hanya sedikit infeksi, entar juga sembuh” batin Tari saat menghapus caiaran merah itu dari lubang hidungnya.

Hari ini Tari berjanji untuk menunggu Alfin di depan gerbang kampusnya untuk menjemputnya. Alfin adalah sahabat semasa kecil Tari. Alfin memang sangat menyayangi Tari, dan rasa sanyang itu bukan hanya rasa sanyangnya sebagai sahabat namun rasa sayang sebagai orang yang dicintainya. Namun rasa cinta itu Ia pendam karna Ia tidak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin diantara Ia dan Tari. Alfin yang selalu ada di samping Tari. Dan saat Tari berusaha menguatkan diri dari kepergian ibunya. Alfin menjadi saksi sebagian perjalanan hidup Tari.
“ Kita makan dimana, Tar..?”
“Terserah kamu aja Fin, aku oke – oke aja”
“Oke deh, tempat biasa aja ya..”
“oke…”.

Mereka pun menuju tempat makan yang biasa mereka hampiri. Sebuah tempat makan yang sederhana namun tetap bersih dan terlihat indah dimata Tari.
“Pipi kamu kenapa Tar,…??” Alfin mengajukan pertanyaan yang memang sejak tadi ingin Ia tanyakan.
“Resti berantem sama ayah Fin.. aku berusaha melindungi Resti dari pukulan ayah”
“Sungguh keterlaluan ayahmu itu Tar.”
“Ga apa – apa lah Fin, aku sudah biasa seperti ini. Lebih baik aku yang ayah sakiti dari pada Resti, aku sayang Resti Fin, Resti adalah amanat ibu untuk aku. Aku sudah berjanji dengan ibu untuk melindungi Resti apapun yang terjadi”
“iya Tari, aku mengerti. Tapi ayahmu memang sudah sangat keterlaluan. Lama – lama aku laporin juga tu kepolisi”
“Huuuss, gitu – gitukan ayah aku Alfin”
“he… becanda Tar”
Tari pun ikut tersenyum. Saat Tari tersenyum maka saat itu pula kebahagiaan Alfin muncul, kebahagian yang muncul dari Tari untuk Alfin tanpa Tari sadari.
***

Hari – hari berlalu begitu cepat terasa. Tari merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa akhir – akhir ini merasa sangat lemah. Dan terkadang kepalanya terasa sangat sakit dan pendarahan dihidungnya yang kadang – kadang ikut menyertai. Namun Tari mengacuhkan hal tersebut. Tari bukan orang yang suka mengeluh dengan apa yang Ia rasakan. Tari akan selalu tersenyum dengan orang – orang disekitarnya, karna Ia menganggap dengan senyumannya orang akan selalu berpikir kalau Ia selalu bahagia. Dan itu akan menjadi doa baginya. Keteguhan Tari inilah yang membuat Resti yang berada dibangku SMA itu sangat bangga dan sayang dengan kakanya. Resti merasa kakanya adalah sosok wanita yang kuat dan jauh dibandingkan dengan dirinya.
“Dooor….” Seru Resti mengejutkan kakanya saat Ia memasuki tempat tidur Tari.
“Astaga.. Resti, maunya apa sih ngagetin kaka aja”
“mau liat ekpresi kaka aja…He, Lucu juga..”
“Senang ya liat kaka kaget, Resti.. Resti..!!!” Tari pun ikut tersenyum meliat Resti yang tertawa karna Dia. “ Becanda doang ka, ga boleh ya..hehe”.
“iya.. iya..”ada apa Res, tumben kamu ke kamar kaka.
Ga ada apa – apa ka, bĂȘte aja liat mama’Dila tu… yang sok perhatian sama ayah”
“Huuus.., ga boleh gitu.. harusnya kita bersyukur adanya mama Dila. Kalau ga ada mama’Dila, siapa yang bakal ngurusin ayah Res..”
“iya ka, tapi kan dibalik perhatian mama’Dila sama ayah ada maksudnya ka..”
“maksudnya apa Res… pikir yang positif aja..”
“mama’Dila kan Ingin menjauhkan kita sama ayah.. buktinya ayah setelah menikah dengan Dia udah mulai kasar sama kita ka, coba aja ibu masih ada.. huhh.. pasti ibu orang yang pertama melindungi kita”.
“Ibu selalu ada di hati kita Res, ibu selalu melindungi kita, dan ibu selalu mengawasi kita dari sana. Dan mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita, jalan yang mengantaran kita pada kebahagian.”
“Amin” sekali lagi Resti kagum dengan cara berpikir kakanya, yang selalu bisa mengambil sisi kebahagian diantara pahitnya penderitaan.

Tiba – tiba Tari terdiam, Ia merasakan kembali ada cairan yang keluar dari lubang hidungnya. Tari coba menghindar dari pandangan Resti. Dan mencoba berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan cairan itu. Saat Tari mencoba berjalan. Ia merasakan tubuhnya begitu lemah, dan tak lama pandang Tari menghitam. Tari pun terjatuh di depan Resti, sontak Resti kaget meliat kakanya terjatuh tiba – tiba dan pinsan di depannya, Ia bingung harus melakukan apa karna di rumahnya hanya ada Ia berdua, ayah bekerja dan mama Dila tak tau kemana. Resti berteriak minta tolong, berharap ada yang mendengar teriakannya. Tak lama beberapa tetangga pun tiba untuk membantu Resti untuk membawa Tari kerumah sakit.
***

Resti miris meliat kakanya yang terbaring diruang ini. Ruang yang menurut Resti banyak meninggalkan kenangan menyakitkan baginya, terutama saat – saat ibunya dirawat disini. Resti menangis tak hentinya di samping Tari, pikirnya terus saja menerawang ada apa dengan kakanya, dan kenapa kakanya seperti ini. Ia tak ingin berpikir yang buruk untuk kakanya. Karna Ia memang tak mau hal buruk itu menghampiri kakanya.
Tak lama Alfin pun datang setelah mendapat Kabar dari Resti. Resti memeluk Alfin dan terus menagis di bahu Alfin, Ia ikut merasakan apa yang Resti rasakan. Karna Alfin sangat menyayangi Tari. Resti menceritakan apa yang terjadi dengan kakanya, kenapa Tari bisa sampai di tempat ini.
“Resti takut ka terjadi apa – apa dengan ka’Tari” dengan suara yang tersendu Resti mengeluh pada Alfin akan kekuatirannya pada Tari.
“ tak akan terjadi apa – apa denga Tari, Res… tenang lah, Tari wanita yang kuat”
“iya ka”
“apa kata dokter….???”
“entahlah, Dokter belum bisa memastikan ka’Tari sakit apa, masih menunggu hasil darah ka’Tari beberapa hari lagi. Untuk sementara dokter hanya memberi beberapa obat untuk ka’Tari.”
Ayah Tari dan Mama’Dila pun datang setelah Resti memberi kabar pada ayahnya. Diluar pikiran Resti pada ayahnya saat meliat Tari yang terbaring di tempat tidur. Ayahnya mencoba mendekati Tari dan memegang tangan Tari. Ia menatap dalam – dalam paras Tari yang memang sangat mirip dengan allmarhum istrinya yaitu ibu Tari. Seperti kembali kemasa Ia menghadapi peristiwa yang sama saat istrinya terbaring sakit di tempat yang sama, namun dalam hatinya terbesit Ia tak ingin menyaksikan kejadian yang sama di tempat ini.
“ maafkan ayah Tar” kata – kata Ayah membuat Resti tak percaya dengan apa yang Ia dengar, seakan – akan doa Tari datang menghampiri Tari saat Ia terbaring tak sadarkan diri. “suatu saat nanti mata hati akan ayah terbuka untuk melihat semuanya.”
***

“Alfin..”
Suara yang terdengar sangat lemah membuat Alfin terbangun dari tidurnya. Menyadari suara itu berasal dari Tari, Alfin mendekat dan menghampiri Tari. Setitik cerah di mata Alfin saat melihat Tari telah sadarkan diri setelah 2 hari Ia terbaring.
“Alfin…”
“ya Tari..”
“Bawa aku pergi dari tempat ini…”
Ucapan Tari membuat Alfin heran. Ada sesuatu yang terasa hilang dari Tari, seperti ini bukan sosok Mentari yang Ia kenal.
“kamu masih sakit Tar.. Istirahatlah dulu”
“aku ingin jalan – jalan Fin” suara Tari yang terdengar sangat lemah membuat Afin tak mampu untuk menolak permintaannya.
“Baiklah…. Kita keliling Rumah sakit ini aja ya.. di taman belakang ada taman yang Indah tar..”Tari hanya mengangguk mengiyakan perkataan Alfin.
Alfin dan Tari berjalan menuju taman belakang rumah sakit itu, sesampainya disana mereka pun duduk di sebuah kursi yang terlindung oleh pohon akasia. Rumah sakit ini terletak tak jauh dari puncak yang memang terkenal dengan keindahan alamnya. Dan tepat dibelakang taman ini kita bisa melihat bukit – bukit kecil dengan beberapa rumah penduduk disekitarnya.
“indah Fin….”
“iya Tar, sangat indah”
***

Tak jauh dari tempat yang berbeda, tepatnya diruang dokter yang merawat Tari. Resti dan ayahnya duduk dengan rasa yang tak menentu untuk mendengar apa yang akan di katakan sang dokter tentang hasil tes darah Tari.

Hembusan nafas sang Dokter terasa berat untuk mengawali membeciraannya, sebagai Dokter sudah menjadi hal biasa baginya bila harus mengatakan hal yang pasti tak disukai pasiennya. Tapi itu lah pekerjaan yang harus Ia lakukan. Melakukan yang terbaik terbaik untuk pasiennya walau hasilnya kadang tak seindah dengan apa yang Ia bayangkan.
“ Tari mengidap penyakit Leukemia stadium akhir, kemungkinan tipis untuk Ia bertahan”
Seakan tak mampu menahan tangis yang tiba – tiba datang dan meruap, tangis Resti pecah di peluk ayahnya yang akhir – akhir ini ayanhnya menunjukkan perubahan dengan Resti dan Tari. Ayah Resti tersentak tak mampu untuk berkata apa – apa, anaknya Tari mengidap penyakit leukemia atauyang sering dikenal dengan kanker darah. Dalam hatinya berkata, mengapa Ia baru menyadari sekarang kalau Tari mengidap penyakit itu. Tari tak pantas untuk mendapat semua ini. Kenapa harus tari ya”allah. Batin ayahnya yang terasa ikut menangis.
***

Tepat di taman belakang, Alfin dan tari masih menikmati indahnya memandangan di taman tersebut.
“Alfin…”
“Iya Tar”
“aku merasa sangat lelah Fin, bolehkah aku bersandar di bahumu..” Alfin tak berkata apa – apa, namun dari isyarat tubuhnya menandakan tanda setuju.
“Alfin, aku bahagia..”
“kenapa Tar…??”
“aku bertemu dengan ibu di pimpiku Fin, ibu sangat cantik fin…”
“ibumu memang cantik Tar…” secantik dirimu batin Alfin
“ibu bilang akan menunggu aku disana” alfin terdiam mendengar kata – kata Tari, ada apa dengan Tari batin Alfin.

Tak lama telphon Alfin berdering menandakan panggilan masuk. Dari Resti. Tak lama setelah Alfin berbicara dengan Resti yang terus saja menagis. Telpon yang di genggam Alfin tiba – tiba terjatuh, sepertinya kabar yang disampaikan Resti membuat Alfin tersentak dan tak tahu harus berpikir apa. Sedangkan wanita yang ada di sampingnya terus saja berbicara dengan lembutnya.
“Alfin…., aku ingin tidur… aku lelah fin.. aku ingin memejamkan mata ini.. “ ucap Tari dengan lembut yang terdengar sangat lemah. Yang sejak tadi masih bersandar pada bahu Alfin. Tanpa Tari sadari Ia terus mengeluarkan cairan merah dari hidugnya. Dan di sampingnya, Air mata Alfin terus terjatuh.Air mata yang sangat dibenci Alfin, karna menurutnya air mata adalah symbol kelemahan seseorang apa lagi untuk seorang lelaki. Namun saat itu rasa bencinya tak mampu menghalangi air matanya yang terus saja mengallir.

Alfin merasa sesuatu yang tak Ia inginkan akan terjadi. Alfin hanya bisa memegang tangan Tari dengan eratnya. dan terus menatap lurus tepat pada saat matahari yang akan terbenam. Tiba – tiba suasana terasa berubah. Saat menyadari apa yang terjadi. Wanita yang berada di sampingnya terasa begitu sangat melemah dan genggapan Tari pun terlepas dari tanga Alfin.

Matahari terakhir untuk Tari terbenam di penghujung pelupuk mata Tari. Saat itu juga Mentari terakhir untuk Alfin ikut terbenam, namun tak akan terbit kembali untuk menyinari hatinya dan hati setiap orang yang menyayanginya. Suara angin yang terus berderu di telinga Alfin yang hanya bisa terpaku diam, seakan – akan Ia berkata. “selamat tinggal Alfin”.

15 Oktober 2012

PROFIL PENULIS
Nama : Susan aryati
TTL : 30 Juni 1993
Alamat : Kotabaru Kalimantan Selatan

Jumat, 21 Desember 2012

Cerita Lucu


CERITA LUCU 1

       Si Bejo sedang buru2 menuju ke kantaronya karna kesiangan bangun
dan tak sengaja dia menabrak seekor burung di tengah perjalanannya, karna mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Dilihatnya burung itu, ternyata kepalanya terluka dan burung itu pingsan karna merasa iba dan bersalah kepada burung itu maka dia memutuskan untuk pulang .
       Sesampainya dirumah ditaruhlah burung itu dalam sangkar besi dan
diciprat2inya air, tapi burung itu gak sadar juga keesokan harinya ketika dia mau berangkat ke kantor diberinya air dalam wadah kecil dan roti dalam sangkar burung itu dipikirnya 'nanti setelah burung itu sadar pasti dia sangat haus dan lapar' dan dia berangkat kerja seperti biasa....
       burung itu ternyata sadar juga burung itu melihat sekitar dilihatnya ada air minum dan septong roti. terus dia melihat sekelilingnya ternyata dia ada di dalam jeruji besi dan burung itu berkata dalam hati sambil menangis...
       Oh... Tuhan rupanya kemarin aku menabrak pengendara mobil pasti dia
meninggal sehingga aku sekarang di penjara. Maafkan aku Tuhan aku tak
sengaja.... :-(

Sabtu, 01 Desember 2012

Coboy Junior




PEMANDANGAN PULAU KOMODO


Cerpen cinta : Cinta 2 Hati


CINTA 2 HATI
Cerpen Nuri

Udara sore berhembus semilir lembut,terasa sejuk membelai kulit.Kira-kira menunjukan pukul 16.45 WIB. Seorang gadis yang manis  dan lugu sedang berjalan didepan rumahnya itu. Tiba-tiba seorang pria tampan memakai kendaraan sepeda motor mengikuti sepanjang jalannya dengan pelan-pelan, sementara berpasang-pasang mata tampak mengarahkan pandangannya kearah  gadis manis itu.
Tiara, itulah nama gadis berwajah manis dan lugu itu. Entah kenapa dia seakan-akan menjadi pusat perhatian para pria. Tiara bermaksud untuk pergi kerumah temannya, tiba-tiba seorang pria itu menghentikan langkah Tiara.
“Haii...!” Tiara terkejut, dan menatap pada pria itu. Pada saat itu, ternyata pria itu juga menatap kearah Tiara. Mereka saling menatap.

Sesaat keduanya terdiam, hanya mata mereka saja yang saling pandang. Namun itupun tidak berlangsung lama, karena Tiara perlahan-lahan menundukkan kepalanya. Seakan tidak ingin berlama-lama saling beradu pandang dengan pria itu.
“Kamu...Kamu tinggal disini ?” Tanya pria itu.
“Iya...Memangnya kenapa ?” Jawab Tiara.
“Tidak..Bolehkah aku mengetahui namamu ?” Tanya pria itu.
“Boleh,” Jawab Tiara. “ Namaku Tiara.”
“Dan namaku Putra.” Dengan cepat pemuda itu memperkenalkan namanya. Setelah mereka berkenalan Putra bergegas untuk pulang, dia tersenyum-senyum karena dia tidak menduga akan bertemu dengan Tiara. Hatinya sangat girang dan gembira.

Dua minggu kemudian secara tidak sengaja kakak nya Tiara ngekos di daerah tempat tinggalnya Putra. Tak disangka dan tak diduga Tiara dan Putrapun dipertemukan kembali.
“Putra: Haii Tiara....!!! sedang apa diri mu disini ??? Tanya Putra.
“Tiara: Haii juga Putra!!enggak,lagi nganter kakak pindahan kesini.” Jawab Tiara.
“Putra: Wahh Putra bisa ketemu terus dong sama Tiara!!” Tanya Putra.
“Tiara: Emmmmzz... Ya gitu deh.” Jawab Tiara

Tiara dan Ibunya sedang duduk diruangan tamu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Kakaknya  pun bergegas menuju keruang tamu untuk membukakan pintu.
“Siapa?” Tanya kakaknya Tiara setelah membukakan pintu.
“Saya Putra ka temannya Tiara..” Jawab Putra.
“Oh... silahkan masuk.” Kakaknya Tiara mempersilahkan Putra masuk kedalam ruangan tamu untuk bertemu dengan Tiara.
“ Selamat malam bu, saya Putra temannya Tiara. Saya ingin bertemu dengan Tiara.”
“ Ya,silahkan duduk.” Jawab Ibunya Tiara. Ibunya Tiara pun bergegas untuk pergi kebelakang,karena tidak ingin mengganggu anak gadisnya itu yang baru saja pertama kalinya dekat dengan seorang pria.
“Putra : Hai Tiara?”
“Tiara “ Hai juga Putra?”

Mereka berdua pun berbincang-bincang hingga malam. Putra pun pulang dari rumah Tiara. Tiara menceritakan awal pertemuannya dengan Putra kepada Ibunya dan Tiara sudah mulai menyukai Putra.
Dua bulan berlalu setelah perkenalan Tiara dan Putra. Putra mengatakan cintanya pada Tiara bahwa Putra menyayangi dan mencintainya sejak pertama bertemu.Tiara pun menerima Putra sebagai Kekasihnya. Akhirnya mereka pun jadian !!!

Lima bulan berlalu Tiara dan Putra melewati hari-harinya bersama penuh dengan warna. Putra adalah pria yang sangat-sangat menyayangi Tiara, menjaga Tiara, dan pria yang penuh keromantisan. Tetapi  semuanya berubah, Putra sudah mulai menghianati cintanya Tiara dengan yang lain, Ia berselingkuh dengan teman dekatnya Tiara.Hubungan mereka pun kini mulai tak seindah dulu lagi,hingga akhirnya mereka berpisah.

Tiga minggu berlalu setelah Tiara berpisah dengan Putra,Tiara sudah memasuki SMP kelas 3. Saat Tiara berdiam diri dipekarangan sekolah sepasang matanya menatap kearah pohon, dimana tampak terdapat goresan yang menghiasi pohon itu. Goresan-goresan yang dibuat dengan cara menyayat kulit batang pohon itu, dan tiba-tiba ada pria yang menghampiri Tiara.
“Pohon yang malang dan patut dikasihani,” desah Tiara sambil menghela napas panjang.
“Kenapa kamu mengatakan pohon ini patut untuk dikasihani?” Tanya pria itu.
“Mereka terlalu sadis mengukir dipohon ini.”
“Tidak, jika menurut pendapatku !!” Jawab Pria itu.
“Tentu, karena kamu tidak mengetahui penderitaan pohon ini.”
“Ada kalanya, penderitaan itu sangat berharga.” Pria itu menepuk-nepuk pohon itu. “Ini hanya pohon biasa, namun ukiran huruf-huruf itu akan kekal abadi selama-lamanya.” Pria itu menoleh kearah Tiara seraya kembali berkata,  “Bukankah suatu kenangan sangat sulit untuk dilupakan?” Pria itu tersenyum.

Tiara tersenyum dengan wajah muram. “Kamu tidak mengetahui apa yang aku rasakan saat ini, kamu juga tidak mengetahui sakit dan pahitnya rasa ini.” Tutur Tiara. “Aku memang tidak mengetahuinya tetapi aku dapat merasakan rasa sakit yang kamu alami sekarang ini.” Tutur Pria itu.

Tiara merasa tingkah laku dan sifat pria ini berbeda dengan pemuda yang lain, gerak geriknya halus dan sopan.
“Namamu siapa dan kelas 9 apa?” tanya Tiara.
“Namaku Ridwan,, aku kelas 9E .”
“ oohh,,darimana kamu mengetahui namaku?” tanya Tiara.
“ Siapa siihh yang enggak kenal kamu, banyak orang yang mengagumimu Tiara. Tetapi sayang sinar dan keceriaan diwajahmu kini sudah tiada, kamu telalu terpuruk oleh masa lalu kamu bangkit Tiara !!” tutur Ridwan.
“Terimakasih Ridwan.” Jawab Tiara. Tiara dan Ridwan pun pergi dari pekarangan sekolah itu. Dari perkenalan itu Tiara dan Ridwan pun menjadi seorang teman, mereka akrab dan kegembiraan pada raut wajah Tiara sudah mulai kembali. Tiara menjadi gadis yang ceria lagi seolah-olah dia sudah melupakan sakit yang ia rasakan selama ini. “ Terimakasih ya Ridwan.” Tutur Tiara.
“ Terimakasih buat apa?” Tanya Ridwan.
“ Ya, karena kamu sudah mau menjadi teman aku dan kamu juga sudah dapat mengembalikan lagi senyum aku. Tanpa kamu mungkin aku tidak akan menemukan kegembiraan lagi.” Tutur Tiara.
“ ohh..Sama-sama Tiara. Aku senang berteman dengan kamu. Bukankah kamu telah menemukan kegembiraanmu? Kamu akan berteman dengan yang lainnya, maka kegembiraan hatimu juga akan bertambah.” Tutur Ridwan.

Tiara mendengar terus apa yang sedang dikatakan Ridwan, hatinya terus terhibur dan tenang. Tiara sadar bahwa didunia ini tiada jalan buntu jika ingin bertekad bulat berjalan terus dengan setulus hati.

Ketika Tiara sudah mulai dekat dan menyayangi Ridwan begitupun perasaan Ridwan kepada Tiara, Putra menghubungi Tiara kembali dan mengajaknya untuk kembali lagi bersama Putra. Putra meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kehilafan dia selama ini, namun Tiara bingung dengan perasaannya. Ia masih mencintai Putra yaitu Cinta Pertamanya sedangkan disisi lain dia juga mencintai Ridwan yang sudah membuat hari-hari Tiara kembali lagi menjadi hari-hari yang cerah dan penuh warna. Akhirnya Tiarapun memutuskan untuk menerima Putra kembali menjadi kekasihnya.
“ Terimakasih Tiara kamu sudah mau menerima aku sebagai kekasihmu lagi, aku janji aku nggak akan mengulangi lagi kesalahan terbesar aku ini, aku janji Tiara.” Tutur Putra. “ Iya,,aku nggak butuh janji kamu aku hanya butuh bukti kamu Put.” Jawab Tiara. “Pasti akan aku buktikan.” Jawab Putra.
Setelah Tiara dan Putra kembali lagi, Ridwan sudah mulai menjauhi Tiara. Hati ridwan sangat-sangat pedih dan hancur berkeping-keping melihat mereka bersama.

Bel waktu pulang sekolah telah berbunyi, para siswa itu pun mulai meninggalkan ruangan kelas. Tiara berjalan keluar dari dalam kelas, ia seperti orang kebingungan dengan apa yang ia ambil dari keputusannya itu, ia tidak pernah melihat lagi Ridwan disekolah. “ Kemana Ridwan ?” Tanyanya dalam hati. Tiara pun pulang kerumah dan mengganti pakaiannya didalam kamar.
“toook...tokkk..tokk.” suara ketukan pintu kamar Tiara. Ibunya memanggil. “ Tiara, buka pintunya sayang!!”
“ Iya mah, sebentar.” Jawab Tiara. Tiara membukakan pintu kamarnya. “ ada apa mah?” tanya Tiara.
“ ini ada surat untuk kamu, dari Ridwan !” tutur Ibunya.
Tiara kaget...
“ Apa bu, dari Ridwan ??”
“ Iya dari Ridwan, sudah baca dulu saja suratnya siapa tau ada sesuatu yang penting !!” Tutur Ibunya.
“ terimakasih bu.” Tutur Tiara.

Dalam surat ini Ridwan menulis sebuah tulisan yaitu yang berisi  :
To : Tiara orang yang aku sayang
“ Tiara maaf sebelumnya aku tidak menemui kamu sebelum aku pindah rumah dan belakangan ini aku mulai menjauhi kamu, aku nggak mau mengganggu hubungan kamu sama Putra, aku ingin melihat kamu bahagia bersama dia. Sebenarnya aku mengetahui saat kamu mencari-cari aku.”

Jujur hati ini hancur berkeping-keping saat aku tau kamu bersamanya, jujur aku menyayangimu lebih dari seorang teman. Aku mencintaimu semenjak kamu masuk SMP. Tetapi, aku tidak berani untuk mengungkapkannya apalagi semenjak kita dekat hati ini sangat-sangat bahagia.

Hanya satu pesan yang aku titipkan untuk kamu, terus tersenyum meski hati kita tersakiti, dan semoga saja hubungan kamu bersama Putra dapat berjalan lama. Amienn, I Always Love You Tiara.

Tiara meneteskan air matanya setelah membaca surat dari Ridwan. Tiara bingung apa yang harus ia lakukan setelah ia mengetahui bahwa Ridwan sudah meninggalkan dia.

Sinar pagipun sudah mulai memancarkan cahayanya, Tiara berdiri dibawah pohon yang penuh dengan ukiran huruf-huruf, ia berdiri ibarat sebuah patung, matanya tidak berkedip memandang kearah ukiran huruf-huruf itu. Didalam pikirnya hanya memikirkan “Bagaimana keadaan Ridwan, mengapa aku selalu memikirkan Ridwan. Apakah aku benar-benar mencintainya ?” Tanya Tiara dalam hatinya.

Beberapa bulan kemudian, Tiara mengambil surat kelulusannya disekolah. Dia  terus berdiri didepan pekarangan sekolahnya, ia meningat masa-masa saat bertemu Ridwan pertama kalinya. “ Aku rindu kamu Ridwan.” Tutur Tiara. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki, dengan terburu-burunya Tiara membalikan badannya.
“Ridwan..”
“Tiara...”

Mereka berhadap-hadapan, tanpa mengatakan sesuatu namun tatapan mata mereka mencerminkan hati yang mengandung kegirangan yang meluap-luap.
“ kamu tega meninggalkan aku Ridwan.” Tutur Tiara.
“ Bukannya aku tega Tiara, aku hanya ingin melihat kamu bahagia bersama Putra, dan aku nggak mau hati ini terus-terusan merasakan sakit, serta aku juga harus ikut pindah bersama orangtuaku.” Jawab Ridwan
“ Maafkan aku Ridwan, aku tidak bermaksud melukai perasaan kamu.”
“ Ia tidak apa-apa Tiara.” Jawab Ridwan
“ Tetapi Ridwan.”
“ Tetapi apa Tiara?” tanya Ridwan.
“ Aku menyayangi dan mencintai kamu?” Jawab Tiara.
“ tetapi bagaimana hubungan kamu dengan Putra?” Tanya Ridwan.
“ Entahlah, aku bingung !” jawab Tiara.

Tiba-tiba suara langkah kaki mendekati mereka berdua, dan ternyata dia adalah Putra. Putra marah dan menatap Tiara dengan mata yang sangat tajam, Tiara bingung apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba Putra mengeluarkan satu pertanyaan yang sulit untuk dijawab Tiara. 
“ Tiara siapa yang mau kamu pilih untuk menjadi kekasih kamu,,aku  sudah mendengar semua pembicaraan kamu bersama Ridwan.?” Tanya Putra.
Tiara hanya terdiam membisu, Tiara bingung mau menjawab apa. Tiara mencintai kedua pria ini, tetapi dalam sisi lain Tiara juga tidak mungkin memilih salah satunya. Apabila ada salah satu seorang pria yang ia pilih untuk menjadi kekasihnya ia akan menyakiti salah satu perasaan pria itu. Tiara pun memutuskan untuk tidak memilih salah satu dari mereka berdua untuk menjadi kekasihnya walaupun Tiara mencintai dan menyayangi mereka berdua. “ maaf Putra kita harus mengakhiri hubungan ini, dan kamu Ridwan aku juga tidak mungkin memilih kamu untuk menjadi kekasihku. Lebih baik kita semua berteman, aku tidak mau ada seseorang dari kalian berdua yang merasakan sakit. Terimakasih untuk semua kasih sayang dan kebaikan yang kalian berikan selama ini untukku.” Tutur Tiara.
“ Baiklah Tiara.” Ujar Ridwan dan Putra.